selamat datang di blog baru saya MUHAMAD ISMAIL BUKAN SANTRI BIASA
11-01-1995 CINANAS BANTARKAWUNG RT 4/RW5 JL. MADIN NO 1 MUARA persaudaraan setia hati terate dan panca roba

Sabtu, 26 Januari 2013

persaudaraan setia hati terate

PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE DAN SAMBUNG

 Ki Ageng Soerodiwirjo dengan para muridnya pada tahun 1930 di Madiun
Salam Persaudaraan,
Bila kita belajar Pencak Silat, maka kita akan faham bahwa Pencak Silat adalah pelajaran tentang pemahaman perjalanan hidup kita secara pribadi atau individual dengan TUHAN YANG MAHA KUASA dan kita dalam hubungannya dengan orang lain atau bersosialisasi.
Pada saat kita belajar jurus, misalnya dalam Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate & Persaudaraan Setia Hati, kita belajar dari jurus 1 sampai jurus 36, menggambarkan, kita berada selama 36 minggu atau Sembilan bulan di dalam kandungan Ibu. Dalam kandungan Ibu adalah situasi dimana kita sangat dekat sekali dengan TUHAN YANG MAHA KUASA. Kandungan Ibu adalah rumah awal kita dimana kita diciptakan oleh TUHAN. Intensitas komunikasi kita dengan TUHAN YANG MAHA KUASA sangat tinggi dalam kandungan IBU. Disitu TUHAN, melalui channeling Guru & Pelatih memberi pelajaran & latihan masuk ke dalam kesadaran, mendidik kita bagaimana cara menggunakan 36 jurus MEMAYU HAYUNING BAWONO, bagaimana kita menciptakan perdamaian dalam kesadaran umat manusia. Selama kita berlatih Memayu Hayuning Bawono, kita berlatih melalui jurus 1 sampai jurus 36. Maka apabila kita pernah belajar dan berlatih jurus 1 s/d 36 kita adalah Saudara Sekandung dimana IBU kita bernama SETIA HATI. Pada saat latihan kita juga melakukan sambung dengan saudara kita. Sambung dengan warga maupun calon warga. Sambung adalah CONNECTED CINTA KASIH, Analoginya seperti Facebook, We are connected. Awal connected adalah dengan sesama Saudara kemudian dikembangkan untuk sesama manusia. Kita harus sambung dalam kasih. Belajar jurus adalah mempelajari keterampilan berkelahi.Namun dalam sambung keterampilan ini harus digunakan dengan penuh cinta kasih. Sekeras apapun kita sambung menggunakan segala teknik jurus kita, apabila kita jalankan dengan penuh cinta kasih, maka tidak akan ada dari kita yang cidera, bahkan akan terjadi saling menyembuhkan. Dalam latihan jurus Pencak Silat, ke dalam kita melatih keterampilan diri dengan keras, namun keluar kita harus melakukan praktek pengendalian diri cinta kasih. Bila kita tidak melatih diri dengan keras, maka praktek cinta kasih kita keluar tidak akan berhasil. Di luar sana banyak masalah yang harus di taklukan dengan cara keras maupun lembut namun bijaksana. Kita memulainya dengan menaklukan diri sendiri terlebih dahulu. Inilah seninya Pencak Silat, keras namun penuh cinta kasih. Maka sifat utama Pencaker (Ahli Pencak Silat) adalah Satria. Tahu benar dan salah. Membela yang benar dan menghukum yang salah, termasuk terhadap diri sendiri.
Maka bila kita sambung baik kepada warga maupun calon warga, harus kita lakukan dengan penuh cinta kasih meskipun jurus yang kita gunakan keras. Dasar Cinta Kasih dalam sambung adalah lawan seimbang, keterampilan memadai, dan penuh pengendalian diri. Dalam sambung tidak ada lawan, yang ada adalah Saudara. Dan kita sambung, bukan berkelahi. Bedakan dengan berkelahi apalagi dengan tawuran yang tidak kesatria. Meskipun menggunakan teknik berkelahi namun Jiwanya adalah Sambung, connected yang penuh cinta kasih sesama Saudara. Berkelahi hanya teknik bukan Jiwa. Sambung itu mengatur emosi kita, mengkonversi emosi menjadi nalar. Pada saat mencapai nalar, maka dua pihak saudara yang sambung mencapai titik memayu hayuning bawono kemudian kita deklarasikan Persaudaraan.
Sambung Persaudaraan yang keras namun penuh cinta kasih adalah dasar dar i PENCAK SILAT SENI. Kombinasi antara Sambung keras dan cinta kasih adalah KEINDAHAN. Penonton yang menyaksikan sambung ini tentu akan kuatir salah satu pihak akan terluka. Namun penonton juga yakin bahwa Pencaker yang sambung telah terlatih dan mempunyai keterampilan yang memadai sehingga tidak akan ada yang cidera.
Pencak Silat Olah Raga juga merupakan pengembangan dari Sambung Persaudaraan. Tujuannya adalah mengukur prestasi sprotifitas, sedangkan Pencak Silat Seni mengukur kualitas seninya dilihat dari gerak tubuh (wiraga), penjiwaan gerak (wirasa), dan sinkronisasinya dengan irama yang mengiringi (wirama). Untuk mengukur kualitas seni lebih sulit daripada menentukan prestasi sportifitas dalam olah raga. Maka tulisan ini mempunyai keterbatasan, tulisan ini hanya mengemukakan korelasi filosofi antara Sambung Persaudaraan dengan Pencak Silat Seni, belum membahas lebih detil tentang pemahaman nilai kualitas seni itu sendiri apalagi Pencak Silat Olah Raga.
Berbeda lagi dengan Pencak Silat Bela Diri. Situasi disitu adalah Membunuh atau Dibunuh. Situasi itu dalam pewayangan di analogikan situasi Bharata Yudha. Situasi sangat terpaksa, yang sebetulnya diputuskan pada akhir jaman oleh YANG MAHA KUASA, namun Manusia sering mendahului kehendak YANG MAHA KUASA. Dan disini tidak ada keindahan. Apanya yang indah melihat orang membunuh. Mari kita lihat situasi Bharata Yudha Palestina dan Israel. Bangsa Palestina dan Israel sama-sama keturunan Nabi Ibrahim dan sekarang sedang melakukan perang saudara. Bukan sambung persaudaraan melainkan pemutusan & pemusnahan persaudaraan. Maka saya menyarankan apabila kita bukan aparat keamanan yang sudah lulus tes psikologi, kita tidak usah menjiwai Pencak Silat Bela Diri. Belajar boleh tetapi tidak perlu penjiwaan. Mari kita lebih menjiwai PENCAK SILAT SENI yang penuh dengan penyempurnaan persaudaraan.
PENCAK SILAT SENI yang digarap dengan baik, sangat bagus digunakan untuk dua tujuan, yakni, pertama, untuk diplomasi kebudayaan bagi organisasi IPSI. IPSI akan menawarkan Pencak Silat menjadi produk yang menarik dan disukai oleh masyarakat dunia, kedua, untuk penyempurnaan sikap dan kesadaran persaudaraan kita. Untuk menjadikan Pencak Silat universal kita perlu melakukan tindakan diplomasi kebudayaan, dalam bahasa manajemen adalah kegiatan marketing, agar produk pencak silat di cintai oleh dunia. Pencak Silat itu bertujuan Mamayu Hayuning Bawono, dan mempunyai daya jual yang tinggi untuk mendorong praktek perdamaian dunia. Oleh karena itu kita harus dukung program IPSI yang meng-universal-kan Pencak Silat. Namun dalam PENCAK SILAT SENI yang lebih penting adalah kemampuannya yang lebih memperdalam rasa persaudaraan. Melatih emosi kita agar menemukan nalar. Saling menghargai antar saudara, full empathy dan mendorong sifat baik lainnya.
Praktek PENCAK SILAT SENI tidak harus menggunakan pengiring untuk ngibing atau sambung persaudaraan dengan iringan gamelan. Namun lebih menunjukan keindahan gerak jurus yang mengandung unsur bela diri, namun bukan digunakan untuk praktek bela diri yang menghancurkan, melainkan memperlihatkan keterampilan indah yang seimbang antara dua saudara yang sambung. Bela diri tanpa persaudaraan adalah berkelahi melepaskan unsur cinta kasih, sedangkan sambung adalah skenario berkelahi dengan teknik bela diri namun menampilkan keindahan gerak dengan unsur persaudaraan yang melekat semakin kuat.

Prof. Sumitro Djojohadikusumo, kadhang SH, dikelilingi oleh para kadhang PSH dan PSHT (sebelah kiri Pak Sumitro, Pak Maryun dari PSH, paling kiri Mas Yanuarno dari PSHT, No. 2 dari kanan Pak Pamoedji dari PSHT)

Sumber Foto dari: Mas Suhartono Hartono, Warga PSH yang sedang tugas PESILAT di Brunei
Opini Pribadi: Prasetyo Sampurno, Warga Persaudaraan Setia Hati Terate

 http://maestrosilat.multiply.com/reviews/item/10?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar