selamat datang di blog baru saya MUHAMAD ISMAIL BUKAN SANTRI BIASA
11-01-1995 CINANAS BANTARKAWUNG RT 4/RW5 JL. MADIN NO 1 MUARA persaudaraan setia hati terate dan panca roba

Rabu, 23 Januari 2013

KENTUT ajib dah




Gas ini terutama berisi: nitrogen, oksigen, metan (diproduksi bakteri atau kuman dan mudah terbakar), karbondioksida, hidrogen dan lain-lain. Gas yang keluar dapat berbau menyengat akibat kandungan gas bergugus indol atau hidrosulfida (S-H) yang tercampur. Indera penciuman manusia cukup reaktif terhadap senyawa-senyawa yang mengandung gugus ini. Bisa saja kentut terbakar, karena kentut mengandung metana dan hidrogen yang bersifat mudah terbakar. Kalau terbakar, nyala apinya berwarna biru karena kandungan unsur hidrogen. Tetapi gas kentut tidak akan terbakar dalam kondisi normal karena konsistensinya lain. Juga suhunya tidak cukup panas untuk memulai pembakaran.
Fermentasi bakteri dari proses pencernaan memproduksi panas, hasilnya adalah gas busuk. Ukuran gelembung gas lebih kecil, hangat dan jenuh dengan produk metabolisme bakteri yang berbau busuk. Kemudian gas ini menjadi kentut, walau hanya kecil volumenya. Maka dari itu kentut yang busuk itu biasanya bersuhu hangat dan tidak bersuara.
Persentase kandungan gas dari gas kentut yang tidak berbau:[1]
Nitrogen: 20–90%
Hidrogen: 0–50%
Karbon dioksida: 10–30%
Oksigen: 0–10%
Metan: 0–10%
Penyebab
Penyebab kentut selain faktor kandungan dalam makanan yaitu udara yang tertelan, makan terburu-buru (apalagi tanpa dikunyah), meminum soft drink, naik pesawat udara (karena tekanan udara lebih rendah), sehingga gas di dalam usus mengalami ekspansi & muncul sebagai kentut.
Kacang-kacangan mengandung zat gula yang tidak bisa dicerna tubuh. Gula tersebut (raffinose, stachiose, verbascose) jika mencapai usus, bakteri di usus langsung membuat banyak gas. Jagung, paprika, kubis, kembang kol, dan susu juga merupakan penyebab banyaknya frekuensi kentut (tetapi bukan baunya).

Beberapa cara untuk mengurangi bau kentut
1.Minum teh herbal
2.Batasi makanan yang memicu gas di perut
3.Perhatikan asupan produk susu
4.Rutin olahraga
5.Ubah kebiasaan makan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar